Pada masa rezim ORBA, Pancasila wajib diperdalam terus-menerus oleh seluruh warga negara
Hal yang paling jelas adalah carut-marut kehidupan berbangsa dan berbegara secara murni dan konsekuen. Korupsi, pungutan liar, kolusi, suap, konspirasi, nepotisme, amarkhis, kekerasan antarwarganegara, pembunuhan, pencurian, dan lain-lain, menjadi keseharian di nusantara, entah di jalan, lapangan, gedung, hutan, kebun, dalam bumi, udara, laut, dan lain-lain. Dan praktik-praktik dekadensi moralitas tersebut kini (2008) kian transparan dan tidak punya rasa bersalah secuilpun pun. Dampak yang tidak pernah tersolusi adalah kebangkrutan persatuan, perpolitikan, perekonomian, peradilan hingga perikemanusiaan
Tampaknya, masih diperlukan sebuah pertanyaan esensial sebagai makhluk (katanya, paling mulia dan sempurna) ciptaan Tuhan dan sebagai warga negara Indonesia, apakah sungguh-sungguh sudah menyadari diri sendiri dan memasang rambu-rambu untuk mengendalikan diri, memberi semangat hidup, mampu mensyukuri hidup, bagaimana seharusnya kelak hidup dengan lingkungan, dan lain-lain. Sebaba, kesadaran ini akan memanusiakan diri sendiri (sebagai makhluk ciptaan, sila ke-1) dan orang lain (sila ke-2), mempersatukan sebagai bangsa
A. Aji Mumpung
Dalam olah kanuragan, ajian yang tidak pernah diajarkan adalah aji mumpung. Namun ajian satu itu ternyata lebih sakti daripada Pancasila, yang tentu tentu saja sudah dihafal dan dimengerti secara luar kepala oleh para pengelola bangsa dan negara (Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif) sejak dari bangku SD hingga penataran Pedoman Pengahayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), terlebih mayoritas mereka adalah produk-produk pendidikan rezim ORBA..
Berikutnya, sebelum menjabat, mereka harus melewati proses formal yaitu bersumpah di bawah kitab suci dari agama masing-masing. Bukan bersumpah di bawah komik manga, karya tulis ilmiah, antologi, atau buku-buku resep memasak ala menu khas
Tidak ada masalah dengan materi penataran dan pelajaran. Tidak ada masalah dengan undang-undang, dan hukum. Masalahnya selalu ada pada manusia
B. Kaum Musyrikun
Mayoritas warga negara
Sayangnya, implementasi sehari-hari terhadap ke-Esa-an itu harus berhadapan dengan realita. Diam-diam ke-Esa-an Allah didua-tigakan oleh “sesuatu” dan “seseorang”. Tidak sedikit orang
Yang tak kalah syiriknya, menyembah “seseorang” yang memiliki jabatan (kekuasaan) tertentu. Ini sebenarnya adalah doktrin tradisional, bahwa para pemimpin atau penguasa adalah wakil Allah untuk mengelola negeri.

Rakyat pun tunduk kepada hukum bukan karena mengerti bahwa hukum diciptakan untuk mengendalikan kecenderungan hawa nafsu manusia terhadap sesamanya, melainkan karena takut ditangkap polisi, takut dipenjara, takut dianiaya aparat-preman di penjara, takut dipublikasikan, malu kalau ketahuan tabiat sesatnya, dan lain-lain. Birokrat, aparat hukum, politikus, pengusaha, ilmuwan, paramedis, dan lain sebagainya pun memiliki kepercayaan (ketakutan) terhadap “seseorang” (dengan lembaganya) yang berpotensi memperkarakan mereka. Maka suap, bisnis peraturan, bisnis hukum, mafia peradilan, fakta jadi fiktif, data jadi dusta, ilmiah jadi ilusi, visum medis jadi simpang-siur, dan lain-lain termasuk kepercayaan itu.
Kenapa orang mau melakukan korupsi, pungutan liar, membunuh, mencuri, menipu, menyuap, melacur, memfitnah, mengadu domba, anarkis, menggelapkan keuangan, mengambil hak/property orang lain tanpa kesepakatan, memuja-histeris pada selebritis dan pejabat, dan lain-lain? Kenapa juga ada orang yang mau di-korup, dipungut liar, diadu domba, difitnah, dibeli, atau disuap dengan semilyar dalih dan apologi? Apakah perbuatan-perbuatan semacam itu sesuai-selaras dengan kepercayaan (monoteisme) yang dianut?
Bangsa ini sesungguhnya sedang menjerumuskan diri ke jurang syirik yang kian dalam sehingga kebangkrutan di semua ruang kehidupan semakin merajalela dari
Lumrah bahwa rakyat percaya kepada pemerintahan, perwakilan, peradilan, dan peraturan. Yang menjadi persoalan adalah pada para pengelolanya. Human error karena apologi “manusia biasa”. Lumrah pula kepercayaan semacam itu selalu dimanfaatkan oleh oknum-oknum (manusia biasa) untuk melakukan korupsi, kolusi, nepotisme, mengadu domba, membunuh sesama manusia, memenjarakan orang tidak bersalah, menyuap-disuap, memfitnah, menghasut, merampas hak milik (property) orang lain, menjarah, serakah, egois, semena-mena, tidak adil, membela-mendukung kejahatan, menyesatkan kebenaran, bebal, dan lain sebagainya.
Kenapa lumrah? Karena bangsa ini sesungguhnya adalah kaum musyrikun kendati tidak bersedia berterus terang mengakuinya sekalipun itu dilakukan secara pribadi di ruang sembahyang mereka masing-masing! Sebaliknya, bangsa ini akan marah besar bahkan mengamuk jika dikategorikan sebagai “kaum musyrikun” karena tidak sesuai dengan Pancasila dan ajaran agama, dan sudah termasuk penghinaan atau penodaan religiusme dan humanisme (martabat manusia) Indonesia.
C. Kaum Munafikun
“Hidup cuma satu kali. Kapan lagi menikmatinya? Kenapa repot mikir kiamat?” gugat sebagian orang Indonesia. Saat ini kesempatan untuk menikmati semua yang ada. Kalau kesucian bisa direnovasi dan kesempatan untuk merehabilitasi diri masih ada bahkan panjang, kenapa merepotkan diri dengan hidup sengsara demi sebuah idealisme yang hanya memelaratkan dan mempermalukan diri?
Maka disusunlah dalih-dalih : keluarga, kesehatan, masa depan, karier, masa tua, kehidupan anak-cucu, dan seterusnya. Yang biasa mencuri telur ayam sampai menjarah peternakan ayam. Yang korupsi seratus ribu rupiah sampai trilyunan rupiah. Yang disuap sepuluh ribu rupiah sampai segudang saham-saham kosong. Yang menipu, memanupilasi diagnosa, data dan keuangan, dan lain-lain pun demikian. Hati nurani yang sejatinya adalah basis spiritual (ruang komunikasi pribadi manusia dengan Pencipta-nya) justru kian rongsok, terbengkalai dan termanipulasikan oleh atribut-atribut, gelar-gelar rohani, dan kalimat-kalimat malaikat yang serba indah. Siapa yang akan tahu dan percaya selain pada hal-hal yang jelas terlihat dan terdengar oleh manusia lainnya?
Sekali lagi, hidup di dunia hanya satu kali. Manfaatkan semua dengan cara apa pun untuk menikmati surga dunia. Kapan lagi? Kalau mati mau ke mana? Tidak usah merisaukan “setelah mati mau ke mana” karena prinsip monoteisme sudah sering diperlihatkan ketika saat-saat sembahyang dan hari-hari besar. Manusia tidak berhak menghakimi masa depan sesamanya di akherat kelak. Bagi yang percaya pada reinkarnasi, hidup kembali setelah mati pun tidak usah membayangkan akan menjelma sebagai binatang apa.
Tapi bagaimana kalau setelah mati ternyata masuk neraka? Nah itu dia! Hidup cuma sekali. Nikmati sepuas-puasnya karena toh nanti bakal masuk neraka. Kapan lagi bisa menikmati surga apabila tidak di dunia sekarang ini? Jangan risaukan apa yang akan terjadi setelah mati. Hidup itu sekarang, dan mati itu urusan nanti. Berpikirlah yang sekarang, kenyataan hidup itu sendiri. Mati mau ke mana, tergantung takdir dan nasib. Barangkali begitu prinsip hidup mereka.
Hidup adalah sekarang. Miskin adalah malu. Idealisme adalah kepercayaan yang akan memelaratkan dan mempermalukan diri. Bangsa ini bangsa yang kaya, bukan bangsa yang miskin. Maka, apa yang haram pun ditempuh untuk mencapai satu visi-misi : kaya. Kalau menjadi pejabat, bungkuslah visi-misi materialisme itu secara lebih profesional dan fungsional. Rakyat kian miskin memang resiko menjadi rakyat akibat kebodohan dan kemusyrikan rakyat. Menjadi birokrat yang tidak korup dan tidak melakukan pungutan liar, jelas tidak sah dalam pergaulan antarbirokrat. Berpikirlah untuk hidup saat ini, realistis. Juga untuk masa tua sebelum mati. Anak-cucu harus dibekali dengan warisan sebanyak-banyaknya agar masa tua tidak dipermalukan karena anak-cucu melarat. Hidup cuma satu kali. Surga-neraka hanyalah imajinasi, bukan sesuatu yang hakiki dan terbukti seperti miskin-melarat, penjara, atau hukuman mati.
Barangkali pula mereka berpendapat, surga akhirat bisa dikredit dengan sumbangan-sumbangan finansial selama hidup di dunia. Tidak sedikit dari para koruptor, eksekutor, perampok-perampas-penjarah-pencuri hak milik orang, pendusta, penipu, mafia peradilan, dan psikopat-psikopat lainnya di Indonesia rajin memberikan sumbangan ini-itu sebagai kredit surga akherat atau upaya menyogok malaikat penjaga pintu surga di akherat karena mereka percaya bahwa malaikat bahkan Allah bisa disogok dengan sumbangan ini-itu.
Begitulah kira-kira prinsip hidup manusia sakit spiritual. Mereka (lantaran sakit spiritual) lupa bahwa perbuatan-perbuatan mereka selama hidup di dunia bersama dengan manusia lainnya berada dalam pengawasan Allah bahkan setan-iblis serta antek-anteknya tanpa sedebu pun terlewatkan. Tapi apalah “saksi-saksi” yang tidak kelihatan itu dibanding pengadilan manusia.
Mungkin juga mereka merasa tidak perlu memikirkan akherat karena itu bukan urusan manusia. Urusan di dunia adalah realitas, dan urusan akherat hanya berdasarkan perkiraan belaka. Asalkan tidak terang-terangan “mendua-tiga-empat-banyakkan Allah” apalagi menganut ateisme, beres. Maka, tiada hentinya mereka melakukan tindakan haram (“menghalalkan keharaman”) demi “hidup cuma satu kali” dan “kapan lagi”.
D. Republik Munafik
Pancasilat
1. Ke-tuan-an yang maha egois
2. Kemanusiaan yang batil dan biadab
3. Perseteruan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh para penjahat berhikmat dalam pertipumuslihatan/perkawanan
5. Kebatilan sosial bagi seluruh rakyat
Bangsa ini sangat gampang mengumpat, “
Lantas, kenapa bisa begitu, padahal mayoritas orang
Allah tidak akan pernah bersalah atau keliru dalam berbagi matahari kepada seluruh pelosok bumi. Apalagi julukan
Republik ini sesungguhnya adalah Republik Munafik. Kemunafikan sudah menjadi epidemi nasional, dari tingkat rakyat jelata hingga tingkat pejabat atas. Kalaupun hanya sebagian, kemunafikan ternyata mempunyai hegemoni yang signifikan. Rumah-rumah ibadah megah, hari besar meriah, pusat-pusat pendikan agama dan publisitas kotbah marak, tetapi implementasi spiritualitas warga negara dalam realitas, misalnya birokrasi, hukum, relasi sosial, ilmiah-medis, dunia kerja, industri, dan lain-lain, sama sekali tidak mengemuka.
Reformasi justru membuat kemunafikan kian signifikan, dan dilengkapi perisai-perisai dalih dengan bahasa-bahasa indah-intelek dan semerbak ayat-ayat suci. Maraknya buku-buku rohani, tayangan-tayangan rohani, kegiatan-kegiatan rohani, toko-toko asesoris rohani, dan sejenisnya bukanlah indikasi mutlak bahwa di bangsa ini sudah terjadi peningkatan spiritualitas yang mengagumkan dan patut dibanggakan. Sebaliknya, kejahatan-kejahatan, baik skala kerdil maupun raksasa, justru kian cerdas, terbungkus “suci”, dan terorganisir sesuai kemajuan berpikir dan teknologi.
Oleh karenanya, tidaklah mengherankan jika bangsa ini semakin tahun semakin terpuruk dalam kebangkrutan massal, baik secara moral, mental, emosional, rasional, sosial, komunal, material, yuridisial, politikal, dan lain sebagainya sebab sesungguhnya kebangkrutan tersebut sudah dimulai dari dalam diri, yakni kebangkrutan spiritual. Kepercayaan kepada kedok, atribut, gelar rohani maupun filsafat pat-gulipat pun sudah menjadi syirik nasional. Kejahatan berlindung dalam kedok kerohanian dan status sosial. Idealisme dan integritas sejati sudah kuno, kadaluarsa, tidak laku lagi, termarjinalkan, bahkan mungkin langka (semoga tidak punah sama sekali!). Julukan “Macan Asia” hanya untuk menutupi kebobrokan diri sendiri bahwa mentalitas mayoritas manusia
*******
Rawa Buaya, 2008
*) Latar belakang tulisan-tulisan serial “Republik Munafik”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar